suku batak

Suku Batak dikenal sebagai salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia. Hal ini berdasarkan pendapat dari sensus Badan Pusat Statistik di tahun 2010 lalu.

Hampir disetiap Provinsi ditemukan orang-orang dari Suku Batak. Namun, ada juga suku lainnya yang mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia diantaranya, Minang, Sunda, Madura, dan Lampung.

Suku Batak terdiri dari beragam Suku diantaranya, Toba, Simalungun, Karo, Angkola, Mandailing, pakpak dan masih banyak lagi.

Keenam suku tersebut merupakan sub-etnis Suku Batak mempunyai marga yang diturunkan oleh nenek moyang mereka.

Di kesempatan kali ini penulis akan membahas tuntas adat istiadat Suku Batak. Mulai dari rumah adat, pakaian adat, alat musik, rumah adat dan mata pencaharian Suku Batak.

Ingin lebih jelasnya, silahkan simak ulasan berikut ini:

Sejarah Suku Batak

suku batak

Suku Batak mempunyai asal usul yang sulit ditemukan, sebab minimnya situs peninggalan sejarah yang menceritakan tentang Suku Batak.

Orang Batak adalah penutur bahasa Austronesia dimana bahasa dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Austronesia bermula dari Taiwan yang telah berpindah ke wilayah Filipina dan Indonesia sekitar 2500 tahun lalu tepat pada zaman batu muda (Neolitikum).

Belum diketahui kapan nenek moyang Batak pertama kali berada di Tapanuli dan Sumatera Timur.

Sebab, sampai pada saat ini ini belum ada artefak Neolitikum yang ditemukan di wilayah Batak, maka Suku Batak dikatakan kalau nenek moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatera Utara di zaman logam.

Suku Banjar

Adat Istiadat dan Kebudayaan Suku Batak

suku batak

Suku Batak merupakan satu suku di Indonesia yang mempertahankan kebudayaannya. Mereka sangat memegang kokoh tradisi dan kebudayaan.

Sampai sekarang, kebudayaan Suku Batak tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial orang Batak dan aktivitas sehari-hari.

Beikut adat istiadat Budaya Batak yang perlu kamu ketahui:

1. Partuturan

Dalam kehidupan masyarakat Batak mempunyai sistem kekerabatan (partuturan) yang menjadi kunci hidup dengan menyebutkan marga kepada setiap orang Suku Batak yang ditemuinya.

Hal ini juga digambarkan dalam bentuk ukiran dua ekor cicak yang saling berhadapan menempel di kiri-kanan rumah adat Batak.

Sistem kekerabatan ini menjadi tiang agung untuk mempersatukan hubungan darah dan menetapkan sikap terhadap orang lain dengan baik.

2. Dalihan Natolu

Nama Dalihan dikutip dari kata tungku dari bahan batu. Secara umum Dalihan Natolu dapat diartikan sebagai tungku tempat memasak yang ditempatkan pada tiga batu.

Agar tungku tersebut dapat berdiri dengan kokoh, ketiga batu penopang harus berjarak seimbang satu sama lain.

Hal ini adalah falsafah yang dimaknai dengan sistem kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.

Ada 3 sistem kekerabatan yang dimiliki oleh Dalihan Natolu yakni:

  • Somba Marhulahula (Dalihan Natolu)
  • Elek Marboru (Sikap membujuk Wanita)
  • Manat Mardongan Tubu (Bersikap hati-hati kepada teman semarga)

3. Mangulosi

Mangulosi (ulos) merupakan sebuah lambang kehangatan dan berkat bagi setiap orang yang menerimanya.

Mangulosi memiliki peraturan yang wajib dipatuhi, hanya orang yang dituakan yang bisa memberikan ulos.

Contoh, Orang Tua mangulosi anaknya, tetapi seorang anak tidak bisa mangulosi orang tuanya.

Mangolusi akan mudah dijumpai dalam sebuah tradisi Batak berikut ini:

  • Pada saat bayi lahir akan mendapatkan “Ulos Parompa”
  • Pada saat anak laki-laki melakukan pernikahan, akan mendapatkan “Ulos Hela” dari mertuanya
  • Pada saat meninggal dunia akan mendapatkan “Ulos Saput”

Suku Bali

4. Umpasa

Umpasa merupakan ucapan yang menyerupai pantun dalam bahasa Batak yang mempunyai makna. Kata Umpasa ini diucapkan untuk menyampaikan keinginan dan harapan dalam setiap acara adat serentak akan mengucapkan “ima tutu” artinya “semoga demikian”.

Contoh umpasa untuk Kawula Muda yaitu:

“Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan

Jolo sinungkun marga asa binoto partuturan

5. Manortor dan Margondang

Manortor dilakukan dalam bentuk tarian seremonial yang diiringi dengan musik gondang. Tortor adalah tarian adat Batak yang dianggap sebagai sarana utama dalam melakukan ritual keagamaan yang masih berbau mistis.

Namun kini, manortor kerap ditemukan dalam tradisi pernikahan adat Batak dengan membunyikan musik Gondang Sabangunan (dengan alat musik lengkap).

Dahulunya dijadikan sebagai pemujaan kepada Dewa atau roh nenek moyang. Tortor dan musik Gondang tidak dapat dipisahkan.

6. Mangalahat Horbo

Mangalahat Horbo merupakan sebuah tradisi masyarakat Batak sebagai tanda penyucian diri atau menebus dosa-dosa untuk mendapatkan kebahagiaan selama hidupnya.

Tradisi Mangalahat Horbo berdasarkan keyakinan Suku Batak terhadap Debata Mula Jadi Nabolon (sang pencipta alam semesta) yang dapat menghapuskan manusia dari dosa-dosa.

Serta memberi kesejahteraan dengan mengurbankan seekor kerbau jantan yang diikat pada tiang (borotan yang dihias dengan daun).

7. Mangongkal Holi

Mangongkal Holi merupakan tradisi yang dilaksanakan untuk mengumpulkan tulang belulang dari jasad orang tua yang dimasukkan ke dalam peti yang baru untuk dipindahkan pada suatu tempat yang telah disediakan oleh pihak yang bersangkutan.

Tradisi ini adalah warisan nenek moyang Suku Batak yang bertujuan memberikan penghormatan kepada roh orang tua yang sudah meninggal.

Pemindahan lokasi tulang belulang tersebut yaitu agar mendapatkan tempat yang lebih baik dari sebelumnya.

Agama dan Kepercayaan yang dianut Suku Batak

suku batak

Mayoritas keagamaan Suku Batak yaitu memeluk agama Kristen Protestan, masyarakat Suku Batak mempunyai sistem kepercayaan terhadap Mulajadi na Bolon yang memiliki kekuasaan di atas langit serta pancaran kekuasaan terwujud dalam Debata Natolu.

Menyangkut jiwa dan roh, Suku Batak Toba Meyakini tiga konsep diantaranya:

  • Trendi (tondi) yaitu jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan. Oleh sebab itu, tondi memberi nyawa kepada manusia.
  • Sahala yaitu jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang mempunyai tondi, namun tidak semua orang yang memiliki sahala. Sahala mirip dengan Sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki raja atau hula-hula.
  • Begu (tondi) orang yang telah tiada, yang memiliki sifat mirip dengan manusia, hanya muncul pada waktu malam hari.

Rumah Adat Suku Batak

Suku Batak mempunyai rumah adat yang biasa di sebut dengan “Rumah Bolon” atau “Rumah Gorga”. Rumah adat ini menjadi simbol keberadaan masyarakat Batak yang tinggal di daerah tersebut.

Rumah adat Suku Batak terdiri dari beberapa jenis diantaranya, Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Pakpak dan Angkola.

Keenam jenis tersebut mempunyai ciri fisik tersendiri . Berikut nama rumah adat dengan ciri khas masing-masing suku:

1. Rumah Adat Karo

Rumah adat Karo juga disebut sebagai rumah adat Siwaluh Jabu. Maksud lain dari nama tersebut adalah bangunan yang dihuni oleh delapan keluarga.

Ciri khas bangunan rumah adat karo berbentuk sangat megah dibandingkan rumah adat lainnya yakni mirip dengan tanduk.

Selain itu di bagian ruangan rumah adat Karo terbuat dari Jabu Bena Kayu, Jabu Sedapur Bena Kayu, Jabu Sedapur Ujung Kayu, Jabu Lepan Bena Kayu, Jabu Sedapur Lepan Bena Kayu, Jabu Lepan Ujung Kayu dan Jabu Sedapur Lepan Ujung Kayu.

2. Rumah Adat Toba

Rumah adat Toba merupakan rumah tradisional Suku Batak Toba yang sangat dikenal dengan keunikannya, yakni tidak ada pembatas atau sekat di dalam ruangannya.

Di dalam ruangan tersebut memiliki bagian-bagian yaitu sebagai berikut:

  • Jabu Sona
  • Jabu Soding
  • Jabu Suhat
  • Jabu Tonga-tonga
  • Jabu Tampar Piring

3. Rumah Adat Pakpak

Rumah adat Suku Batak lainnya yaitu rumah tradisional pakpak. Orang Suku Pakpak asli memilih untuk bermukim di Aceh Kabupaten Dairi.

Dari sejumlah masyarakat menyebutkan kalau suku ini merupakan suku asli yang dibawa oleh keturunan tentara kerajaan India yang melakukan penyebaran saat menyerang kerajaan Sriwijaya di abad ke 11 di Sumatera Selatan.

Rumah adat Pakpak memiliki ciri khas tersendiri yakni bagian atap rumah berbentuk lambe-lambe segitiga yang penutupnya terbuat dari ijuk.

Suku Anak Dalam

5. Rumah Adat Simalungun

Rumah adat Suku Batak Simalungun memiliki struktur rumah panggung. Suku asli Batak Simalungun mempunyai gelar atau marga diantaranya, Damanik, Saragih, Sinaga dan Purba.

Ciri khas rumah adat Simalungun dapat dilihat dari tekstur bangunannya yang keras dan kokoh. Sejumlah bahan baku yang digunakan pada bagunan rumah adat tradisional Batak ini yaitu kayu yang keras dan kokoh.

Lantai bangunannya terbuat dari kayu sedangkan bagian dinding bangunan terbuat dari tepas. Pada bagian kolong rumah adat difungsikan sebagai tempat untuk memelihara ternak, karena ukuran yang cukup besar.

6. Rumah Adat Bolon

Rumah Adat Bolon merupakan salah satu rumah tradisional Suku Batak yang sering disebut sebagai rumah gorga.

Jika diperhatikan lagi, rumah adat ini terdapat sebuah ornamen hias yang diyakini masyarakat batak sebagai penolak bala.

Rumah Bolon mempunyai keistimewaan ukuran bangunan yang cukup besar dan kerap kali digunakan sebagai ajang pamer antar masyarakat Batak.

Pakaian Adat Suku Batak

Sama seperti suku-suku lainnya, masyarakat Batak juga mempunyai pakaian adat tradisional yang masing-masing suku. Suku Batak yang terdiri dari Toba, Melayu, Simalungun, Karo, Nias, Mandailing dan lain sebagainya.

Masing-masing suku mempunyai ciri khas pakaian adat tersendiri yaitu sebagai berikut.

1. Pakaian Adat Tradisional Suku Batak Toba

Sebagai Suku Toba, suku ini mempunyai pakaian adat tradisional dengan ciri khas yang berbeda dengan pakaian adat Batak lainnya.

Hal ini dapat dilihat dari bahan kain yang digunakan. Warna pakaian adat yang cerah serta corak yang indah membuat pakaian adat Toba mudah dikenali.

Cara penggunaan pakaian adat toba juga sangat unik. Tidak sama dengan pakaian adat daerah lainnya yang terdiri dari atasan dan bawahan.

Pakaian adat toba ini berupa lilitan kain, baik atasan maupun bawahan. Kain tersebut juga digunakan oleh pria dan wanita.

Selain pria dan wanita, pakaian adat Suku Batak Toba juga dapat digunakan oleh anak-anak. Biasanya pakaian adat Toba ini digunakan untuk acara kegiatan atau upacara adat yang dilakukan. Secara keseluruhan pakaian adat Toba menggunakan bahan kain ulos.

Ciri khas pakaian adat pria dan wanita yaitu wanita menggunakan ikat kepala, sedangkan pria wajib menggunakan tutup kepala berbentuk topi dengan ujung lancip ke atas.

Hal ini menandakan bahwa pria sebagai pimpinan para wanita.

2. Pakaian Adat Tradisional Suku Mandailing

Suku Mandailing mempunyai pakaian adat dengan bahan kain ulos, sama halnya dengan pakaian adat Toba. Perbedaannya adalah pakaian adat Mandailing dipadukan dengan aksesoris.

Pada saat upacara adat, kaum wanita Mandailing wajib menggunakan bulang di keningnya. Bulang yang dikenakan tersebut terbuat dari emas sepuhan atau logam. Bulang mempunyai makna lambang kemuliaan dan simbol struktur kemasyarakatan.

Lain halnya dengan laki-laki yang biasanya menggunakan penutup kepala yang bentuknya khas. Penutup kepala yang dikenakan oleh pria disebut  sebagai Ampu.

Dahulu, Ampu digunakan oleh para raja Mandailing dan Angkola. Corak hitam yang terdapat pada Ampu mempunyai fungsi magis sedangkan warna emas menandakan simbol kebesaran.

3. Pakaian Adat Tradisional Suku Nias

Sumatera Utara juga terdapat sebuah pulau yaitu Pulau Nias. Dikarenakan letak pulau yang terpisah, membuat adat dari masyarakat Nias berbeda dengan adat Batak lainnya. Pakaian adat Suku Nias mempunyai ciri fisik kuning keemasan.

Masing-masing pakaian adat pria dan wanita mempunyai ciri khas sebagai berikut:

  • Pakaian adat laki-laki Nias disebut sebagai Baru Ohulu. Laki-laki biasanya mengenakan atasan yang disebut baru. Baru terbuat dari kulit kayu seperti rompi.

    Namun rompi ini tidak memiliki kancing dan warna rompi yang dikenakan berwarna hitam atau coklat. Selain itu, pakaian adat laki-laki biasanya menggunakan aksesoris kalabubu atau kalung kuningan sebagai penghias.

  • Pakaian adat perempuan Nias disebut Oroba Si Oli. Pakaian adat perempuan Nias terdiri dari selembar kain yang terbuat dari kulit kayu atau blacu hitam. Pakaian adat ini juga menggunakan aksesoris berupa gelang yang terbuat dari kuningan.

    Gelang ini disebut masyarakat suku batak “aja kola”. Gelang ini beratnya 100 kilogram. Selain gelang, perempuan Nias juga menggunakan anting logam besar yang disebut “saro delinga”, dan dihias dengan mahkota dengan tujuan untuk mempercantik perempuan Nias.

Suku Aceh

4. Pakaian Adat Tradisional Suku Simalungun

Suku ini tepatnya di daerah Simalungun. Simalungun juga mempunyai pakaian adat khusus berbahan kain ulos.

Namun masyarakat dari Simalungun menyebutnya dengan Hiou. Pakaian adat Simalungun dipadukan dengan aksesoris lain seperti gotong untuk kaum laki-laki dan Bulang untuk kaum perempuan.

Selain itu, mereka juga menggunakan suri atau kain sandang sebagai pelengkap dari pakaian adat tradisional mereka.

5. Pakaian Adat Tradisional Suku Pakpak

Suku Pakpak berada tepat di daerah Pakpak Barat dan Dairi. Pakaian adat tradisional Suku Pakpak terbuat dari bahan kain oles.

Sebagai pelengkap, pakaian adat tradisional Pakpak biasanya ditambahkan dengan kalung emas yang bertahtakan pertama.

Pakaian adat laki-laki suku Pakpak masyarakat Suku Pakpak menyebutnya dengan Borgot, sedangkan pakaian adat perempuan disebut dengan Cimata.

6. Pakaian Adat Tradisional Suku Melayu

Suku Batak juga terdapat suku Melayu yang tinggal di area Kota Tebing Tinggi, Langkat, Baru Bara, Medan, Binjai dan Deli Serdang.

Suku Melayu juga mempunyai pakaian adat tradisional yakni baju kurung dan songket yang dililitkan ke pinggang.

Adapun pakaian adat perempuan yaitu menggunakan bahan sutra atau brukat yang disematkan peniti emas.

Sebagai pelengkap pakaian adat wanita juga ditambahkan kalung dengan corak rantai serati, mentimun, sekar sukun, tanggang dan lain-lain.

Laki-laki Melayu menggunakan penutup kepala yang disebut tengkulok. Tengkulok dari songket dan destar dari rotan yang dibalut kain beludru.

Tengkulok merupakan ikon kebesaran dan kegagahan laki-laki dari Suku Melayu. Pakaian adat laki-laki biasanya ditambahkan hiasan rantai, lengas atau kilat bahu dan sidat yang menjadi simbol keteguhan hati.

7. Pakaian Adat Tradisional Suku Karo

Pakaian adat suku karo mempunyai ciri khas yang hampir mirip dengan pakaian adat tradisional Sumatera Utara lainnya.

Pakaian adat Suku Karo menggunakan bahan kain yang terbuat dari pintalan kapas atau disebut juga uis gara.

Uis gara mempunyai arti kain merah, sebab dibuat dengan bahan benang merah. Kain tersebut dipakai untuk menutupi tubuh mereka saat beraktivitas sehari-hari.

Suku Karo juga memadukan uis gara dengan warna lainnya seperti hitam dan putih.

Tidak hanya warna itu, masyarakat Suku Batak Karo juga menambahkan warna benar berwarna emas dan perak agar pakaian adat terlihat cantik.

Mata Pencaharian Suku Batak

Mata pencaharian Suku Batak sangat sederhana namun unik. Pada umumnya, mata pencaharian orang Batak yaitu dengan bercocok tanam padi dan tanaman lainnya.

Setelah bercocok tanam, hasil yang didapatkan biasanya dijual di pasar-pasar tradisional untuk mendapatkan uang sebagian kecil digunakan untuk kebutuhan hidup mereka.

Selain itu, masyarakat batak juga beternak hewan sebagai salah satu mata pencaharian Suku Batak. Hewan yang diternakkan yaitu kerbau, sapi, babi, kambing, ayam dan bebek.

Sejumlah masyarakat Batak yang hidup di sekitar danau biasanya juga melakukan kegiatan menangkap ikan untuk mata pencaharian mereka.

Kemudian, mereka sebagian dari masyarakat batak juga berprofesi pada sektor kerajinan berupa tenun, anyaman rotan, ukiran kayu, tembikar dan lain-lain.

Suku Tengger

Bahasa Suku Batak

Bahasa Suku Batak yang digunakan masyarakat Batak pada umumnya adalah bahasa Batak. Namun ada juga yang menggunakan bahasa Melayu. Masing-masing bahasa mempiki dialek bahasa yang berbeda-beda.

Masyarakat Suku Karo menggunakan bahasa Karo, Suku Pakpak menggunakan bahasa Batak Pakpak, Simalungun menggunakan bahasa Batak Simalungun sedangkan Toba, Angkola dan mandailing menggunakan bahasa satu yaitu Batak Toba.

Alat Musik Tradisional Suku Batak

Selain pakaian adat tradisional, Suku Batak juga mempunyai sejumlah alat musik yang digunakan untuk upacara adat Batak.

Mungkin sebagian orang menyebutkan kalau alat musik tradisional Suku Batak mirip dengan alat musik tradisional daerah lain.

Jika dilihat lebih teliti, Alat musik tradisional memiliki perbedaan yang cukup signifikan sebagai berikut:

1. Doli-doli

Alat musik tradisional Doli Doli berasal dari Nias. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu, bambu dan batang pohon.

Alat musik ini terlihat seperti Kolintang, namun doli-doli mempunyai ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan Kolintang.

Bilah kayunya juga tidak sebanding dengan Kolintang. Doli-doli dimainkan dengan cara dipukul menggunakan dua batang kayu.

Alat musik tradisional doli-doli terdiri dari dua jenis yaitu doli-doli Gahe dan doli-doli Hagita.

2. Sarune Bolon

Alat musik tradisional Sarune Bolon terbuat dari kayu, tanduk kerbau dan kayu arung sebagai “ipit-ipit sebagai sumber suara.

Alat musik ini dimainkan dengan cara ditiup. Cara meniup alat musik Sarune Bolon yaitu dengan cara “marulak hosa” yakni dimana nafas ditarik tanpa menghentikan suara Sarune Bolon Tersebut. Sarune Bolon adalah pembawa melodi dalam Gondang Batak.

3. Pangora

Pangora adalah alat musik sejenis Gong Jawa dengan bentuk relatif sama. Bedanya, alat musik Pangora berbunyi “pok”.

Hal ini dikarenakan alat musik Pangora dipukul menggunakan stik dan bagian pangora diredam dengan pegangan tangan.

Ukuran Pangora berdiameter 37 cm dan tebal mencapai 6 cm. Pangora dimainkan dengan cara dipukul seperti gong.

4. Garantung

Garantung menjadi alat musik tradisional Batak yang memiliki 5 bilah nada. Klarifikasi instrumen ini termasuk ke dalam golongan Xylophone.

Selain berperan sebagai pembawa melodi, alat musik ini juga berperan sebagai ritem variable dalam lagu-lagu tertentu.

Alat musik tradisional Garantung dimainkan dengan cara mamalu (memukul 5 bilah nada).

Garantung mempunyai 7 wilahan yang digantungkan di atas kotak sekaligus sebagai resonatornya. Alat musik ini menggunakan dua buah stik yang digunakan pada tangan kiri dan kanan.

5. Taganing

Alat musik Tradisional Batak Taganing berfungsi untuk melodi dan ritem variable dalam sejumlah lagu Batak.

Klarifikasi instrumen ini termasuk dalam golongan “membranophone”. Taganing hanya dapat dimainkan oleh satu atau dua orang saja dengan menggunakan stik.

Seperangkat alat musik Taganing terdiri dari lima buah, Dalam permainan Taganing, posisi Taganing menjadi hal yang sangat penting.

Taganing dimainkan dengan cara dipukul dengan menggunakan dua buah stik.

6. Hapetan (Hasapi)

Hapetan merupakan alat musik tradisional Suku Batak. Alat musik Hapetan mirip dengan alat musik Kecapi, yakni berdawai dan dimainkan dengan cara dipetik.

7. Gondang

Gondang dimainkan dengan cara dipukul. Gondang berperan sebagai pembawa ritem konstan ataupun ritem variable. Alat musik Gondang terbuat dari kayu.

8. Ihutan

Ihutan mirip dengan Panggora. Jika dilihat masing-masing memiliki perbedaan ukuran, bunyi dan cara memainkannya. Ukuran Ihutan yaitu 31 cm, tinggi 8 cm dan diameter pencu kurang lebih 11 cm.

9. Odap

Odap merupakan gendang yang kedua sisinya berbentuk konis. Odap berbahan kayu nangka dan kulit lembu serta tali pengencang yang terbuat dari rotan.

Ukuran Odap tingginya 34 – 37 cm, berdiameter membran sisi satu 26 cm dan diameter membran sisi dua 12-14 cm.

Alat musik Odap dimainkan dengan cara dipukul. Bagian gendang dijepit di kaki lalu dipukul hingga menghasilkan suara dap, dap.

10. Hesek

Hesek merupakan alat musik tradisional Suku Batak Toba yang berperan sebagai instrumen pembawa tempo.

Alat musik ini dimainkan dengan cara mengadu pecahan logam sesuai dengan irama lagu yang dibawakan.

Itulah Keunikan adat istiadat, kebudayaan, rumah adat, alat musik tradisional khas Suku batak yang bisa kamu pelajari.

Sebagai, Suku Batak juga memiliki tarian adat yang mempunyai ciri khas tersendiri.,

Sebagai salah satu suku di Indonesia, keberagaman suku wajib menerapkan simbol (Bhineka Tunggal Ika). Walaupun berbeda-beda tapi tetap satu juga.

Related Posts