suku banjar

suku banjar

Suku Banjar atau disapa urang Banjar merupakan salah satu suku bangsa yang menempati wilayah di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Populasi Suku Banjar sudah berkembang di sejumlah daerah seperti Jambi, Riau, Sumatera Utara dan Semenanjung Malaysia.

Hasil sensus penduduk tahun 2010 lalu, orang dari Suku Banjar berjumlah kurang lebih 4,1 juta jiwa. Masing-masing bermukim di beberapa wilayah seperti, Kalimantan dan luar Kalimantan.

Suku Banjar yang menjadi salah satu suku di Indonesia juga memiliki kebudayaan yang beragam. Selain itu, Suku Banjar juga mempunyai sejarah yang cukup unik.

Selengkapnya, penulis akan mengulas tentang kebudayaan, sistem kekerabatan, pakaian adat, senjata tradisional hingga mata pencaharian Suku Banjar.

Sejarah dan Asal Usul Suku Banjar

suku banjar

Asal usul Suku Banjar diduga kuat berasal dari orang Melayu Sumatera, Kalimantan dan Jawa yang menetap di Kalimantan Selatan untuk berdagang.

Bahasa dan agama yang dimiliki orang Banjar adalah pengaruh dari orang Dayak, Melayu dan Jawa.

Sebagian dari mereka juga meyakini dan memeluk agama Islam. Orang Banjar memiliki dua dialek bahasa yaitu Banjar Hulu dan Banjar Kuala.

Sebagian pendapat menyebutkan bahwa orang Banjar sangat berpengaruh sejak abad ke-17. Setelah berbentuk kesultanan, pengaruh tersebut disebarkan kepada masyarakat pedalaman.

Orang Banjar masuk dalam kelompok bangsa Melayu, dilihat dari ciri-ciri bahasa dan kebudayaannya.

Sebagai salah satu suku terbesar di Nusantara, Suku Banjar mempunyai ciri khas Kebudayaan yang unik.

Adat budayanya berasal dari pengasimilasian dan pengakulturasian budaya dasar Suku Banjar Pribumi dengan kebudayaan Hindu, Budha dan Islam.

Maka, segala macam adat istiadat yang ada dalam tradisi Suku Banjar, akan selalu bisa dijumpai hasil dari perpaduan nilai-nilai budayanya.

Suku Bali

Kebudayaan dan Fakta Unik Suku Banjar

Pakaian adat tradisional Suku Banjar terbagi menjadi empat jenis. Pada umumnya, pakaian adat tersebut dipakai untuk sebuah tradisi pernikahan dan upacara adat lainnya.

Pakaian adat tradisional Suku Banjar mempunyai ciri khas yang unik. Inilah nama-nama pakaian adat tradisional Suku Banjar beserta penjelasannya.

Pakaian Adat Tradisional Suku Banjar

suku banjar

1. Pakaian Adat Suku Banjar Pengantin Bagajah Gamuling Baular Lulut

Pakaian adat tradisional Bagajah Gamuling Baular Lulut adalah baju adat tradisional Suku Banjar Kalimantan Selatan.

Pakaian adat ini berpengaruh dari kebudayaan Hindu di zaman dahulu. Baju adat Pengantin ini dipakai untuk melakukan upacara pernikahan.

Nuansa Hindu cukup kental dengan penggunaan “kemben” yang disebut “udat” juga oleh masing-masing mempelai.

Selain itu, rangkaian bunga melati yang disebut dengan sebutan “karang jagung” juga menambah keunikan dan keindahan penggunanya.

2. Pakaian Adat Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari

Pakaian adat ini tampak mewah karena kesakralan upacara adat pernikahan orang Banjar. Layaknya matahari yang bersinar terang, kedua mempelai pun terkesan menarik dalam busana yang dibuat sejak abad ke-17 ini.

Pakaian adat ini telah dipengaruhi oleh budaya Hindu dan Jawa sejak masuknya agama Islam ke Indonesia.

Pakaian adat Pengantin Baamar Galung juga dilengkapi hiasan berupa aksesoris keemasan seperti, kalung, cikak, kalung kebun raja, anting beruntai, panjang kilat bahu, gelang, cincin, gelang kaki dan selop bersulam benang emas.

Disisi lain, pakaian adat ini juga dilengkapi penghias kepala yang menjadi kombinasi agar semakin menambah kecantikan pengantin banjar.

3. Pakaian Adat Pengantin Babaju Kun Galung Pacinan

Pakaian adat ini memiliki ciri khas Timur Tengah dan Negerti Tirai Bambu. Pakaian adat ini merupakan pakaian adat berasal dari adat Kalimantan Selatan yang dipopulerkan sejak abad ke-19.

Ciri khas pakaian Pengantin Babaju Kun disertai dengan kopiah alpe, baju gamis dan jubah yang dipengaruhi pedagang Gujarad saat membawa ajaran agama Islam ke Indonesia.

Adapun pakaian adat mempelai wanita seperti kebaya lengan panjang gaya Cheong Sam, lengkap dengan rok pias bersulam dan bertabur manik dan mote mendapat pengaruh budaya negeri Cina yang dibawa oleh para pedagang dataran Tiongkok pada masa itu.

4. Pakaian Adat Pengantin Babaju Kubaya Panjang

Pakaian adat Pengantin Babaju Kubaya Panjang berasal dari Kalimantan Selatan. Pakaian adat ini memiliki ciri khas layaknya busana pernikahan pada umumnya. Akan tetapi, pakaian adat ini selalu memberikan tampilan terbaru.

Meskipun demikian, ciri khas terdahulu tidak akan pernah hilang dalam pakaian adat Pengantin Babaju Kubaya Panjang.

Pakaian adat dikolaborasi dengan jilbab, kemudian dihiasi dengan mahkota dan aksesoris lainnya.

 

Suku Bali

September 1, 2020 by Noreen Leave a Comment (Edit)

suku bali

Suku Bali mempunyai asal usul dan tradisi yang cukup unik. Sebagai salah satu suku yang terkenal sukunya tersebut, menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Keunikan Suku Bali bisa dilihat dari bahasa kuno Suku Bali, kebudayaan, sistem kekerabatan dan adat istiadat Bali yang membuat Suku Bali dikenali masyarakat lokal dan mancanegara. Sejak zaman Kuno, Suku […]

Filed Under: Suku

Suku Anak Dalam

Tarian Adat Tradisional Suku Banjar

suku banjar

Suku Banjar juga mempunyai tarian tradisional. Sebuah tarian klasik yang biasa dimainkan secara tunggal atau berkelompok, semua diperankan oleh wanita dalam jumlah ganjil.

Tarian tradisional Kalimantan Selatan ini digelar saat upacara menyambut tamu-tamu agung yang diperankan oleh putri-putri keraton.

Berikut nama-nama tarian tradisional Suku Banjar:

1. Tarian Tantayungan

Tarian ini merupakan tarian adat Kalimantan Selatan tepatnya di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Sampai saat ini Tarian topeng ini sudah jarang sekali dimainkan oleh masyarakat Suku Banjar. Salah satunya disebabkan penari harus dari garis keturunan leluhur disana.

Tari Tantayungan adalah kesenian sakral bagian dari upacara adat. Penari Tantayungan ini disebut sebagai panopengan. Para penari biasanya mengalami kerasukan roh-roh leluhur. Tarian Tantayungan berasal dari Desa Ayuang.

2. Tarian Gandut (Bagandut)

Tarian tradisional Gandug merupakan tari tradisional Kalimantan Selatan yang mirip dengan tari Tayub di Jawa dan Ronggeng di Sumatra.

Tari Gandut hampir mirip tarian Tledek, penari wanita dalam tari kerakyatan Jawa.

Awal mula kepopuleran tari ini dimainkan di lingkungan istana, namun di tahun 1980-an mulai berkembang di kalangan masyarakat umum biasa.

Keunikan tari ini lebih menonjol pada penarinya, selain harus berparas cantik dan pandai menari, Gandut juga harus bisa menguasai bela diri dan mantra-mantra tertentu.

Tujuannya agar dapat melindungi diri dari penonton yang usil, sebab tidak sedikit yang mencoba memikat dengan menggunakan ilmu hitam.

3. Tarian Tirik Lalan

Tarian tradisional ini mempunyai ciri khas mirip dengan tari Gandut asal Kabupaten Tapin. Sebagian pendapat menyebutkan bahwa Tirik Lalan menggambarkan bujuk rayu seorang laki-laki kepada wanita yang dicintainya demi mendapatkan izin pergi untuk sebuah urusan.

4. Tarian Kanjar

Tari Kanjar adalah tarian adat khas Suku Dayak Meratus. Tarian ini berkembang di Kecamatan Loksado, Sungai Hulu Selatan, Kalimantan Selatan.

Tarian ini menjadi hiburan yang digelar pada aruh (kenduri) karena menyangkut dengan padi.

Meskipun demikian, sebagai tarian adat tradisional, tari Kanjar memiliki makna sebagai gerak menahan kejahatan untuk mendapatkan pintu kebahagiaan agar masyarakat sehat, gagah, berani, giat bekerja dan mendapatkan hasil berlimpah.

Tarian adat Kanjar dimainkan oleh kaum laki-laki, sering ditampilkan pada upacara adat Aruh Ganal dan Aruh Bawanang.

5. Tarian Babangsai

Mirip dengan tarian Kanjar, tarian ini juga disebut sebagai tarian Dayak Meratus yang dimainakan dalam tradisi upacara Aruh Ganal. Tarian ini tidak dapat terpisahkan dari kenduri besar atau panen raya tersebut.

Tari ini disajikan sebagai ungkapan rasa syukur dan rasa gembira atas kesuksesan memanen padi. Aruh Ganal digelar pada saat tradisi adat Loksado Hulu sungan di Kalimantan Selatan dalam acara tahunan.

Selain sebagai upacara, kehadiran tari Babangsai juga difungsikan untuk hiburan masyarakat selama melakukan upacara dalam waktu tujuh hari tujuh malam.

6. Tarian Tandik Balian

Tarian Balian (Wadian) adalah tradisi upacara pengobatan bagi Suku Dayak Bawo, Dayak Dusun, Dayak Maanyan, Dayak Lawangan, Dayak Benuaq dan Dayak Bukit.

Suku serupun tersebut hidup bertetangga di wilayah yang berbatasan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Tarian ini merupakan perwujudan dari tradisi Balian bagi Suku Balangan (sub Dayak Maanyan) dan Suku Dayak Meratus Kalimantan Selatan.

Selain pengobatan, kesenian Balian menjadi salah satu kesenian daerah yang dapat dinikmati sebagai atraksi seni yang menarik.

Suku Aceh

Upacara Adat Pernikahan Suku Banjar

suku banjar

Upacara pernikahan terdiri dari beberapa jenis diantaranya:

  • Upacara adat pernikahan
  • Upacara adat sosial dan
  • Upacara adat keagamaan.

Ketiga adat ini perlu diperhatikan lagi oleh pemerintah, terkhusus dinas pariwisata dan pendidikan agar tetap melestarikan khazanah budaya di dalam wilayah Kalimantan Selatan.

Suku Banjar juga mempunyai ciri khas yang terdapat dalam suku-suku lainnya, diantaranya:

1. Babalian Tandik

Tradisi Babalian Tandik adalah ritual yang dilakukan masyarakat Suku Banjar (Suku Dayak). Ritual ini dilakukan selama tujuh hari.

Puncak upacara ini digelar di depan mulut goa dengan sesembahan pemotongan hewan Qurban. Kemudian diakhiri dengan upacara Badudus atau penyiraman air Dudus yang dilakukan dengan cara menyiram para pengunjung yang hadir sampai basah kuyup.

2. Mallasung Manu

Mallasuang Manu merupakan upacara adat khas Kalimantan Selatan. Tradisi ini adalah kegiatan melepas sepasang ayam untuk diperebutkan oleh masyarakat Suku Banjar sebagai bukti rasa syukur atas melimpahnya hasil laut di kecamatan pulau laut Selatan.

Aktivitas ini dilakukan Suku Mandar yang mendominasi Kecamatan tersebut selama setahun sekali, tepat pada bulan Maret menurut kalender Masehi.

Dalam pelaksanaan upacara adat ini berlangsung selama seminggu yang disertai dengan aktivitas hiburan rakyat agar semakin meriah.

3. Aruh Baharin

Aruh Baharin upacara ritual berlari kecil sambil membunyikan gelang hiang (gelang bahan tembaga kuningan) mengelilingi salah satu tempat pemujaan sambil membaca mantra.

Estimasi waktu yang dilakukan oleh masyarakat biasanya dalam waktu tujuh hari, sebab para tokoh adat yang ikut serta setiap malam terus menggelar proses ritual pemanggilan roh leluhur untuk ikut hadir dalam pesta tersebut.

4. Basunat Kalimantan Selatan

masyarakat Kalimantan Selatan, Basunat adalah tradisi upacara adat yang sangat penting. Bahkan, keislaman seseorang belum dianggap sempurna jika orang tersebut belum bersunat. Sejak usia 6-12 tahun dan perempuan muda sudah disunat.

Tradisi basunat diterapkan oleh umat muslim untuk menyempurnakan keislamannya, namun dalam adat istiadat Suku Banjar juga menerapkan tradisi tersebut. Hal ini juga dilakukan oleh masyarakat setempat yang masih memeluk agama Balian ataupun kristen (ibid).

5. Aruh Ganal

Aruh Ganal adalah tradisi yang digelar setelah panen raya sebagai tanda ungkapan syukur atas rizki yang diberikan sang pencipta. Selain itu, upacara ini dilakukan dengan tujuan permohonan agar hasil panen semakin lancar.

Perlu untuk diketahui bahwa kesejahteraan para petani tidak hanya dari hasil panen yang berlimpah. Tetapi impor dari negara lain harus dikurangi agar hasil panen dapat di ekspor ke negara lain.

6. Baayun Mulud

Baanyun “ayun” artinya bebas melakukan proses ayunan. Bayi yang akan ditidurkan akan diayun oleh ibunya, ayunan ini memberikan kesan melayang-layang hingga si bayi terlelap.

Sedangkan kata “mulud” berasal dari peristiwa maulud Nabi. Biasanya upacara adat tersebut dilakukan dalam masjid dan ruangan tengah masjid, kemudian dibuat ayunan yang membentang pada tiang-tiang masjid.

Pada ayunan yang dibuat terdiri dari tiga lapis yaitu, Lapisan atas digunakan kain sarigading (sasirangan), lapisan tengah kain kuning (kain belacu yang diberi warna kuning dari kunyit, dan lapisan bawah memakai kain bahalai (kain panjang tanpa sambungan jahitan).

7. Mandi Pangantin (Badudus)

Upacara Badudus adalah tradisi yang dilakukan pada masa peralihan antara masa remaja dengan dewasa untuk mensucikan jiwa raga.

Bagi calon pengantin yang ingin memasuki jenjang perkawinan dinobatkan sebagai orang dewasa harus melewati upacara mandi pengantin (badudus).

Selain itu, upacara adat mandi pengantin juga merupakan sarana untuk membentengi diri dari berbagai gangguan yang tidak diinginkan.

Kalau tidak disiapkan penangkalnya kedua mempelai bisa terserang penyakit dan kehidupan rumah tangganya akan mendapatkan rintangan seperti hancurnya hubungan keduanya setelah kawin nanti.

8. Maccare Tasi

Upacara adat Maccare tasi merupakan upacara adat masyarakat nelayan tradisional di Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan. Tradisi ini terus dilakukan secara turun-temurun setiap setahun sekali.

Upacara ini dilakukan di pantai Gedambaan atau pantai sarang tiung.

Prosesi upacara ini melakukan penyembelihan hewan kerbau, kambing dan ayam di pantai kemudian darahnya dibuang ke laut dengan maksud memberikan darah bagi kehidupan laut.

Masyarakat yang tinggal sekitar pantai berharap mendapatkan rezeki yang berlimpah dari kehidupan laut.

9. Mandi Tian Mandaring

Tradisi Mandi Tian Mandaring merupakan upacara adat yang dilakukan guna memperingati usia kandungan tujuh bulan. Tradisi ini khusus dilakukan untuk wanita hamil yang usia kandungannya sudah mencapai tujuh bulan.

Dalam pelaksanaan, upacara ini disediakan pagar mayang yakni sebuah pagar yang di area tersebut digantungkan mayang-mayang pinang.

Tiang-tiang pagar dibuat dari batang tebu yang diikat dengan tombak. Sedangkan pagar diisi dengan perapen, air bunga-bungaan, air mayang, keramas asam kamal, kasai tamu giring dan sebuah gelas diisi air yang sudah dibacakan doa.

Suku Tengger

Senjata Tradisional Suku Banjar

suku banjar

Masyarakat Banjar menyimpan benda-benda bersejarah di dalam museum, mulai dari benda peninggalan zaman Hindu, mata uang kuno dan jenis senjata yang digunakan untuk berperang melawan penjajahan Belanda.

Senjata tradisional ini disebut sebagai, Sungga, Mandau, Sarapang, Keris Banjar dan Parang. Berikut ini penjelasannya:

1. Senjata Tradisional Sungga

Sungga merupakan salah satu senjata yang digunakan masyarakat pada perang Banjar di daerah Benteng Gunung Madang, Kandangan, Hulu Sungai Selatan.

Senjata ini dipasang di bawah jembatan untuk menjebak musuh agar tidak bisa lewat dan tertancap sungga.

2. Senjata Tradisional Mandau

Orang Banjar memiliki senjata tradisional parang bertangkai pendek. Mandau adalah senjata unggulan bagi masyarakat Dayak.

Lain halnya dengan perang biasa,Mandau mempunyai ukiran-ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam.

Tak jarang ditemukannya lubang di bagian bilahnya yang ditutup dengan kuningan dengan maksud memperindah bilah Mandau.

3. Senjata Tradisional Sarapang

Sarapang adalah jenis senjata trisula atau tombak bermata tiga. Sarapang terbuat dari baja yang dibelah menjadi lima bagian. Kemudian bagian ujung tombak runcing ditambah salut dari kuningan atau besi.

Sarapang biasanya digunakan masyarakat Banjar untuk berburu hewan atau menangkap ikan-ikan besar.

4. Senjata Tradisional Keris Banjar

Keris adalah senjata tradisional yang dibuat dari besi dan campuran logam lainnya. Panjang keris ini sekitar 30 cm. Keris ini merupakan jenis senjata yang biasa digunakan orang Indonesia pada zaman dahulu.

5. Senjata Tradisional Parang

Parang adalah senjata umum yang bisa ditemukan di nusantara. Senjata ini terbuat dari besi dengan bentuk pipih dan salah satu bilah sisinya tajam.

Biasanya, gagang perang yang diberfungsi sebagai pegangan saat digunakan terbuat dari kayu.

Fungsi parang dapat digunakan untuk bermacam-macam. Selain berguna untuk senjata, parang juga digunakan untuk perlengkapan rumah tangga, alat pertanian, alat berburu dan lain sebagainya.

Rumah Adat Suku Banjar

suku banjar

Sejauh ini masyarakat awam hanya tahu Rumah Bubungan Tinggi untuk merepresentasikan rumah adat suku Banjar di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan.

Namun setelah ditelusuri, ada 11 rumah adat suku Banjar masing-masing rumah adat memiliki filosofi dan maknanya yang unik.

1. Rumah Adat Bubungan Tinggi

Rumah Bubungan Tinggi disebut sebagai maskotnya rumah adat suku Banjar, karena jenis rumah adat ini sudah dikenal oleh masyarakat luas. Rumah ini berstruktur panggung atau dasar rumah tidak menempel pada tanah.

Rumah Bubungan Tinggi adalah pusat di dalam struktur kompleks istana Kerajaan Banjar di masa lalu. Sehingga rumah ini menjadi tempat kediaman Raja Banjar.

2. Rumah Adat Gajah Baliku

Rumah Gajah Baliku adalah rumah adat yang ditempati oleh saudara dan anak-anak Raja Banjar. Rumah adat ini dibangun setelah Rumah Bubungan Tinggi selesai, dan berjarak sekitar 30 meter dari Bubungan Tinggi.

Meskipun mirip, keduanya mempunyai perbedaan di bagian bubungan dan atap ruang tamunya. Bentuk bubungan di Gajah Baliku tidak terlalu tinggi dengan kemiringan 60 derajat.

3. Rumah Adat Gajah Manyusu

Rumah adat ini memiliki ciri khas pada bangunan induknya yang menggunakan atap perisai bunting (bumbungan atapnya menyerupai perisai atau tameng). Rumah adat ini ditempati oleh warit raja atau cikal bakal pengganti raja.

Rumah adat ini  akan kamu dapatkan di beberapa sumber lokasi seperti Kampung Melayu, Desa Mekar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar.

4. Rumah Adat Balai Laki

Rumah adat ini biasanya dihuni para punggawa mantra bersama prajurit pengawal keamanan Kesultanan Banjar.

Sebagian masyarakat luar tidak dapat membedakan rumah Balai Laki dan Palimbangan karena adanya kesamaan.

Namun, jika diperhatikan lagi ternyata keduanya mempunyai perbedaan dari segi ukuran.

Rumah Balai Laki mempunyai dimensi lebih kecil dibandingkan jenis Palimbangan. Sedangkan Palimbangan lebih besar dan megah, makanya Palimbangan menjadi tempat tinggal para saudagar kaya.

5. Rumah Adat Balai Bini

Ada Balai Laki, ternyata juga ada Balai Bini. Ternyata Rumah Balai Bini bukan rumah yang didiami para prajurit atau pengawal keamanan kerajaan berjenis kelamin perempuan.

Rumah adat ini justru ditempati oleh puteri raja atau warga kerajaan yang perempuan.

Dari beberapa literatur, ciri khas rumah rumah adat ini atapnya menyerupai joglo. Dengan tambahan atap sindang langit untuk atap surambinya.

6. Rumah Adat Palimasan

Pada rumah adat ini, semua bagian atapnya menggunakan atap perisai, sehingga membentuk atap limas.

Tanggapan dari tim Depdikbud dalam literaturnya menyebutkan bahwa Rumah adat ini mempunyai ciri khas diantaranya, memiliki atap perisai, berbentuk persegi panjang, tangga masuk dari muka ke pelataran dalam dilengkapi dengan hiasan berupa jamang.

Kemudian tidak adanya panapih atau kayu yang diukir sekeliling bawah bangunan, namun memiliki palipis atau papan lisplang yang dipasang mengelilingi cucur atap pada rumah.

Disini biasanya ditempati oleh para bendaharawan istana kerajaan yang bertugas sebagai keamanan, menjaga harta kerajaan, seperti emas dan perak.

Beberapa sumber lain menyebutkan rumah adat ini didiami oleh para alim ulama tokoh masyarakat dalam lingkup kerajaan.

7. Rumah Adat Cacak Burung atau Anjung Surung

Rumah Cacak Burung memiliki ciri khas bentuknya apabila dilihat dari atas, yaitu menyerupai bentuk tanda + (positif).

Hal ini dikarenakan kepercayaan pada saat itu bahwa tanda atau bentuk tersebut untuk menolak bala bagi para penghuninya.

Rumah ini pun menjadi rumah warga masyarakat biasa, terkhusus bagi mereka yang berprofesi sebagai petani dan pekerja di lingkungan Kesultanan Banjar.

8. Rumah adat Tadah Alas

Rumah adat Tadah Alas adalah pengembangan dari Rumah Balai Bini yang disebutkan sebelumnya, yaitu dengan menambahkan satu lapis atap perisai sebagai kanopi paling depan. Atap kanopi disebut juga “tadah alas” sehingga dinamakan Banjar Tadah Alas.

Rumah adat ini sendiri dikhususkan untuk didiami oleh warga biasa di dalam lingkup Kesultanan Banjar.

Rumah adat ini mudah dijumpai di sejumlah tempat seperti Kelayan, Kota Banjarmasin.

9. Rumah Adat Lanting

Rumah adat ini merupakan rakitan tradisional Suku Banjar pada masa Kesultanan Banjar. Meski begitu hingga saat ini masih banyak warga masyarakat yang mendiami rumah Lanting ini.

Pembuatan rumah selalu berkaitan dengan sejarah sungai yang memegang peran penting di kehidupan masyarakat Banjar.

Rumah Lanting memiliki pondasi rakit mengapung terdiri dari susunan tiga buah batang pohon kayu yang besar.

Rumah ini selalu oleng ketika dihantam oleh gelombang atau ombak yang diakibatkan oleh kapal atau perahu yang melewati sungai.

Sesuai dengan lokasinya, rumah Lanting sering dijumpai di daerah pinggiran sungai di daerah Kalimantan Selatan.

10. Rumah Adat Bangun Gudang

Rumah adat ini sejarahnya sering ditempati oleh para pedagang yang berasal dari Tionghoa. Salah satu lokasi rumah Bangun Gudang yang bisa dijumpai berada di daerah kelurahan Sungai Jingan, Kota Banjarmasin.

Perbedaan yang paling kentara disbanding rumah adat Banjar lainnya adalah terdapat tiga pintu masuk ke dalam rumah, yaitu di depan, samping kiri dan kanannya.

Dan ciri lainnya adalah tidak terdapat 4 buah pilar yang biasanya ada pada teras rumah khas Banjar.

11. Rumah Adat Palimbangan.

Rumah adat satu ini mempunyai tekstur bangunan yang cukup besar besar dan megah di lingkungan Kesultanan Banjar. Rumah adat ini ditempati oleh para saudagar kaya maupun alim ulama.

Ciri khas atap dan ornamen ukiran. Pada bagian luarnya beratap pelana dengan hiasan layang-layang dibagian gunungannya.

Bila dilihat sekilas, maka ada kemiripan bentuk dengan rumah khas Jawa tipe “Kampung Dara Gepak” atau rumah “Kampung Lawakan”.

Mata Pencaharian Suku Banjar

Sebagian besar mereka hidup bertani dan menangkap ikan. Sekarang banyak pula yang bergerak dalam bidang perdagangan, transportasi, pertambangan, pembangunan, pendidikan, perbankan, atau menjadi pegawai negeri

Ciri Khas Adat Istiadat Suku Banjar

Ciri khas Adat istiadat Orang Banjar Kain Sasirangan. Kain Sasirangan dipakai untuk tradisi upacara adat. Kata Sasirangan diambil dari kata menyirang yang artinya menjelujur.

Kain Sasirangan terbuat dari bahan dasar Mori dan dijahit dengan cara tertentu. Orang Banjar meyakini bahwa Sasirangan adalah warisan abad ke-21 saat Lambung Mangkurat menjadi patih Negara Dipa.

Sistem Kekerabatan Suku Banjar

Sistem kekerabatan suku Banjar pada umumnya adalah sama, untuk daerah seluruh Kalimantan Selatan. Suku Banjar mendasarkan kekerabatan mereka menurut garis dari keturunan ayah dan garis keturunan ibu atau bilateral.

Tetapi di akui bahwa dalam hal-hal tertentu terutama yang menyangkut masalah kematian, perkawinan yang menjadi wali asbah adalah garis dari pihak ayah.

Dalam hal masalah keluarga besar dan pengertian keluarga besar, maka berlaku garis keturunan ayah dan garis keturunan ibu, keduanya diberlakukan sama.

Itulah adat istiadat kebudayaan Suku Banjar dan Dayak. Kamu wajib memahami betapa pentingnya belajar sejarah masing-masing Suku di nusantara.

Sejarahnya yang cukup unik bukan?. Masyarakat Banjar juga menerapkan sistem kekerabatan yang erat antara suku satu dengan suku lainnya. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan kamu.

Related Posts